Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United
Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United

Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United

Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United - Ada beberapa faktor yang menyebabkan Kagawa bisa dibilang tidak sukses di United. Kendati dia jadi orang Asia pertama yang sukses membukukan hat-trick di Premier League dan membantu 'Setan Merah' menjuarai Premier League 2012/2013, permainannya bisa dibilang tak semengilap ketika masih di Dortmund.

Untuk faktor yang pertama, Cara Daftar Judi Bola Sbobet ada baiknya menyimak ucapan Juergen Klopp yang "legendaris" itu: "Shinji Kagawa adalah adalah salah satu pemain terbaik di dunia dan sekarang dia hanya bermain selama 20 menit di Manchester United --di sayap kiri! Hati saya benar-benar hancur."

Buat seorang pelatih yang menemukan talenta Kagawa, Klopp memang paham bagaimana menggunakan Kagawa dengan semestinya. Sebagai gelandang, Kagawa cerdas, punya kemampuan untuk mencari dan menemukan celah. Di luar itu, dia juga merupakan pemberi passing yang brilian. Atas berbagai Daftar Judi Bola Online atribut itu, posisi terbaiknya pun jelas: Sebagai "nomor 10".

Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United

Di sinilah masalah jadi rumit. United di bawah Sir Alex Ferguson adalah tim dengan kultur British kental. Tidak peduli seperti apa pun taktik yang dimainkan, United adalah tim yang mengandalkan permainan sayap. Bahkan, pemain sekaliber Cristiano Ronaldo mengawali kariernya sebagai winger di United.

Kala terakhir kali menjuarai Eropa dengan formasi 4-3-3 pada 2008 pun United tidak benar-benar meninggalkan permainan sayap. Ronaldo atau Wayne Rooney kerap bergerak ke pinggir untuk kemudian melepaskan umpan silang.

Sial buat Kagawa, dia datang ketika Agen Judi bola Piala Dunia 2018 United mulai rigid dan memainkan 4-4-2.

Awalnya, kedatangan Kagawa diperkirakan bisa membuat United bermain dengan 4-2-3-1. Dengan Robin van Persie sebagai penyerang tunggal dan Rooney berada di belakangnya, Kagawa diprediksi bakal bermain di sisi kanan atau kiri Rooney sebagai attacking midfielder yang kerap menusuk masuk.

Tapi, apa daya. Kagawa hanya beberapa kali dimainkan sebagai "nomor 10". Keberhasilannya mencetak hat-trick ke gawang Norwich City pun muncul karena dia dimainkan di posisi tersebut. Selebihnya, seperti yang dikatakan Klopp, Kagawa bermain sebagai sayap kiri.

Kagawa bukanlah korban pertama. Entah mengapa, kultur sepakbola Inggris acapkali menempatkan mereka yang bertalenta tinggi dan punya kemampuan skill rupawan untuk ditempatkan sebagai pemain sayap.

Dulu ketika timnas Inggris kesulitan mencari sayap kiri --mereka tidak pernah kesulitan dengan sayap kanan, karena setelah Darren Anderton muncullah David Beckham, lalu kemudian Aaron Lennon-- Paul Scholes pun terpaksa dipasang di posisi tersebut. Imbasnya, talenta Scholes tidak termaksimalkan dengan baik.

Scholes, sama seperti halnya Kagawa, adalah pemain cerdas dengan kemampuan melepas passing di atas rata-rata. Ketika dia dimainkan sebagai sayap kiri hanya untuk melepas crossing, maka sia-sia sajalah kemampuannya. Scholes akhirnya memilih pensiun dari timnas Inggris dengan alasan ingin berkonsentrasi untuk klub dan keluarga.

Shinji Kagawa Tidak Sukses Di Manchester United

Setelah Scholes, sempat pula ada Joe Cole yang ditempatkan sebagai sayap kiri hanya karena dia mampu menggiring bola lebih baik dibandingkan pemain-pemain timnas Inggris lainnya saat itu. Dan kita semua tahu bahwa Joe Cole aslinya adalah gelandang serang.

Di Inggris, ini adalah anomali. Keterbatasan kultur permainan dan taktik mereka untuk mengakomodasi pemain-pemain genius tidak hanya mematikan Kagawa ataupun Scholes, tetapi juga Matt Le Tissier untuk masa yang jauh lebih lama lagi. Le Tissier yang begitu liat dengan bola tentu tidak cocok jika sekadar dimainkan sebagai penyerang dalam 4-4-2 --biar itu jadi tugas Alan Shearer saja.

Le Tissier yang liat itu sepatutnya diberikan free role dan tidak dibatasi ruang bernama posisi. Tapi, ketika Le Tissier sedang jaya-jayanya, apakah Inggris tega meninggalkan 4-4-2?

Di United, anomali salah menempatkan pemain, ironisnya, juga sering terjadi. Sebelum Kagawa, ada Anderson yang seharusnya adalah gelandang serang yang kemudian dialih-fungsikan sebagai box-to-box midfielder.

Salah seorang pengamat sepakbola pernah menggambarkan bahwa Anderson adalah "nomor 10" brilian di Piala Dunia U-17 tahun 2005 dengan banyak trik menarik di kakinya. Namun, karena kemampuan fisiknya, Sir Alex Ferguson pun lebih tertarik untuk memainkannya sebagai seorang gelandang tengah ataupun box-to-box midfielder. Kita semua kemudian tahu bagaimana perkembangan Anderson di United.

Tom Cleverley pun demikian. Mencuat dari akademi dan bermain dari satu peminjaman ke peminjaman lain sebagai gelandang serang, Cleverley belakangan malah dikembangkan sebagai gelandang tengah. Cedera serius pada awal-awal musim 2011/2012 ditambah dimainkan tidak pada posisi terbaiknya disinyalir menjadi penyebab perkembangan Cleverley terhambat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here